Meikarta diharapkan bisa membantu program pemerintah memenuhi hunian terjangkau

Backlog, atau problem defisit rumah, menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah Indonesia. Presiden Joko Widodo sudah berjanji untuk segera mengatasi permasalahan ini dengan kecepatan pembangunan agar setiap masyarakat Indonesia punya kesempatan untuk tinggal di hunian yang layak.

Selain dengan memberikan subsidi belanja hunian, pemerintah juga semakin kuat dalam mendorong kerja sama dengan pihak pengembang untuk mengubah kawasan kosong menjadi permukiman penduduk. Hal ini disambut baik oleh Lippo Group, salah satu pengembang papan atas di Indonesia. Bahkan perusahaan yang dipimpin oleh James Riady ini punya langkah ambisius untuk mewujudkannya, yaitu sebuah kota mandiri dengan sistem tata ruang dan fasilitas-fasilitas modern.

Kota Meikarta, itulah nama yang diberikan Lippo Group untuk membangun sebuah kawasan di Cikarang, Jawa Barat. Sebuah wilayah hunian apartemen dengan harga terjangkau dan dibangun di jantung ekonomi Indonesia agar memudahkan masyarakat untuk lebih dekat dengan tempat kerjanya.

Dengan harga mulai Rp. 127 juta per unit, Meikarta diharapkan menjadi solusi bagi warga Indonesia yang kesulitan dalam mewujudkan impiannya, memiliki rumah sendiri. Apartemen murah ini diharapkan menjadi jawaban atas tingginya permintaan rumah yang sesuai dengan penghasilan mereka.

Meski saat ini kondisi pasar properti sedang lesu, Lippo Group optimis bahwa misi mereka dalam membangun Indonesia dan menciptakan hunian berkualitas hidup tinggi dengan harga murah akan sukses. Berbagai fasilitas modern pun disiapkan, mulai dari shopping mall, rumah sakit, sarana pendidikan, pusat teknologi, pusat bisnis, hingga Central Park, sebuah taman seluas 100 hektar sebagai jantung dari Meikarta.

Tak hanya itu, infrastruktur pendukung pun juga dikebut. Secara eksklusif, Meikarta memiliki akses langsung ke tol Jakarta Cikampek II. Selain itu Meikarta juga lebih dekat dengan Bandara Kertajati, Sea Port Patimban, monorail, kereta cepat Jakarta Bandung, serta LRT.

Rumah Subsidi di Aceh Lebih Diminati

Perlambatan ekonomi tak membuat para pengusaha perumahan (developer) di Provinsi Aceh, berhenti berproduksi. Sebaliknya, mereka justru melakukan terobosan. Di antaranya dengan mengubah pasar incaran.

PT Gigeh Mandiri Sejahtera, contohnya. Mereka menyasar kelas masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang hanya mampu mengakses rumah bersubsidi.

Menurut Direktur Utama sekaligus pemilik PT Gigeh Mandiri Sejahtera, Firdaus Musa, pasar rumah subsidi di Aceh cukup besar.

“Lumayan, Tahap I perumahan yang kami pasarkan laris terjual,” kata Firdaus.

Dalam catatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang dikutip Bank Indonesia melalui Survei Harga Properti Residensial, realisasi pembangunan rumah subsidi atau dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan ( FLPP) di Aceh masih sangat minim.

Pada kuartal I-2017, realisasi rumah FLPP 9 unit dengan nilai Rp 856,8 juta. Kemudian kuartal II, turun menjadi 4 unit dengan nilai Rp 402,3 juta. Angka ini tumbuh kembali pada kuartal III dengan pencapaian 17 unit dengan nilai Rp 1,657 miliar.

Karena masih minim inilah PT Gigeh Mandiri Sejahtera konsentrasi pada perumahan subsidi. Pasalnya, permintaan cukup banyak, sementara pasokan terbatas.

Melalui Griya Anugerah Blangkrueng, mereka memasarkan 10 unit rumah subsidi tipe 36 dengan harga mulai dari Rp 180 juta.

Seluruh dari 10 unit yang masuk dalam pengembangan Tahap I ini sudah terjual habis. Demikian halnya dengan rumah non subsidi tipe 50 seharga Rp 275 juta.

“Kami hanya tawarkan 2 unit untuk tipe 50. Itu habis juga,” kata Firdaus.

Saat ini, PT Gigeh Mandiri Sejahtera tengah memasarkan Griya Anugerah Blangkrueng Tahap II. Perumahan yang berlokasi di Blangkrueng Aceh Besar atau dekat Kampus Universitas Syahkuala ini dirancang dalam dua pilihan yakni tipe 45 dan dan tipe 50.

Tipe 45 dibanderol dengan harga 275 juta dengan jumlah rumah 4 unit, dan tipe 50 dipatok seharga Rp 320 juta dengan jumlah juga 4 unit.

Tren Keramik Terus Berubah Setiap Tahun

Keramik merupakan bagian interior yang fungsinya terhitung signifikan, dan dibutuhkan.

Di rumah-rumah sederhana, keramik kini juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan, baik itu digunakan sebagai pelapis lantai, maupun untuk kloset.

Meski demikian, fungsi keramik sudah jauh melebihi itu. Saat ini, desain interior juga melibatkan peran keramik sebagai estetika.

“Dulu (keramik) hanya untuk lapisan lantai, sekarang bagian dari desain. Banyak pemilik rumah bahkan melakukan renovasi mengganti keramik untuk mengikuti tren,” ujar Ketua Asosiasi Aneka Industri KeramikIndonesia (Asaki) Elisa Sinaga saat jumpa pers Keramika 2017, di Jakarta.

Pada Keramika 2017 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), 16-19 Maret 2017, masyarakat dapat melihat berbagai jenis keramik dari segi motif desain atau pembuatannya.

Bagi orang-orang yang berkecimpung di industri keramik, pameran Keramika 2017 membuka kesempatan untuk melihat teknologi baru.

“Pengguna bisa melihat luasnya motif dan jenis yang sekarang dihasilkan dari industri keramik. Dulu kan keramik ukurannya baku, hanya 30×30 sentimeter, 40×40 sentimeter, atau 50×50 sentimeter,” sebut Elisa.

Perkembangan teknologi, tambah dia, dapat mengikuti imajinasi manusia sehingga ukuran yang dihasilkan tidak baku.

Elisa mencontohkan, keramik dengan ukuran tidak biasa seperti 37×97 sentimeter, bisa dibuat sesuai kebutuhan dengan teknologi cutting.

“Bentuk heksagonal juga ada. Sistem joint (sambungan) sudah bagus, interlock-nya,” tutur Elisa.

Hal ini, lanjut dia, membuat pilihan konsumen lebih beragam. Perkembangn ini pula yang membuat banyak pemilik rumah yang setiap 2-3 tahun mengganti keramiknya.

Padahal, dulu keramik cenderung dipasang sekali dalam seumur hidup dan tidak pernah ganti selama penghuni tinggal di satu rumah.

Elisa mengibaratkan hal ini seperti mengikuti perkembangan teknologi gawai yang tidak ada habisnya.

Kini, pengguna juga seringkali mengganti ponsel pintar dalam kurun waktu 2-3 tahun, meski ponsel lamanya masih berfungsi normal.

“Keramik juga perlu tiap tahun dikenali. Mungkin perkembangannya bisa berubah dan (konsumen) mengganti keramik 2-3 tahun, bagi yang mampu,” ucap Elisa.