Bali, Surga Pariwisata yang Selalu Menarik dan Tak Pernah Membosankan

Pulu Dewata surganya pariwisata di Indonesia. Pulau ini seolah tidak ada habisnya untuk dieksplor keindahannya, baik alamnya, budayanya, maupun atraksi lainnya.

Bagi beberapa orang yang sudah pernah berunjung ke Bali, seperti tak ada kata “bosan” untuk datang ke Bali. Selalu ada hal baru, yang menarik untuk dieksplorasi.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Anak Agung Yuniartha menjelaskan hal tersebut. Mengapa pariwisata Bali seolah tak ada habisnya untuk dan eksplorasi, dan selalu menarik untuk dikunjungi?

“Pariwisata Bali adalah pariwisata budaya yang didasarkan Trihita. Karana hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhannya, hubungan keharmonisan antara sesama umat, dan hubungan manusia dengan lingkungannya,” ungkapnya.

Beberapa bangunan yang tak kalah menarik adalah Pura Manikan, Balai Kambang, Balai Bundar, Balai Lunjuk, Balai Warak, dan Kolam Air Mancur.
Beberapa bangunan yang tak kalah menarik adalah Pura Manikan, Balai Kambang, Balai Bundar, Balai Lunjuk, Balai Warak, dan Kolam Air Mancur.

Ketiga hal itulah yang saling terikat di pariwisata Bali, dari dulu hingga sekarang, menurutnya. Setelah ketiganya berjalan, menurutnya masyarakat Bali mengembangkan pariwisatanya ditopang oleh budaya dan keindahan alamnya.

“Hal ini dibuktikan dengan kesanggupan masyarakat Bali dalam mengakomodir kearifan lokal dan budaya yang mengemuka dalam kehidupan masyarakat Bali,” tuturnya.

Oleh karena itu, terlihat juga dari keseimbangan wisata alamnya yang tetap indah tetapi budaya dan kearifan lokalnya pun amat terjaga. Hal tersebut menjadi magnet yang kuat untuk menarik wisatawan.

Panorama langit dan laut di Pantai Kuta, Bali Jumat (17/2/2017).Panorama langit dan laut di Pantai Kuta, Bali.

Untuk menjaga konsistensi, ia mengatakan terus mengembangkan ragam destinasi, baik yang bersifat budaya, alam, juga buatan. Harapannya, dari pengembangan itulah wisatawan tak akan cukup sekali datang ke Bali, dan selalu ingin melihat hal-hal baru yang ada di Bali.

“Kalau kita melihat perkembangan wisatawan yang datang ke Bali dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan yang sangat signifikan,” ujarnya.

Dari data hasil penelitian Universitas Udayana, Bali, turis senang datang ke Bali faktor utamanya ialah dari budayanya.

“Jadi memang budaya kami ini tidak ada duanya di dunia. Jadi pengembangan destinasi disesuaikan dengan budaya kami,” tuturnya.

Mengintip Jejak Peninggalan Hindu dan Islam di Garut

Akhir pekan adalah waktu yang cocok untuk liburan singkat, tentu dengan pilihan destinasi yang tak terlalu jauh dari tempat tinggal. Sore itu saya menuju salah satu obyek wisata yang cukup tersohor di Garut, Jawa Barat, yakni Candi Cangkuang.

Perjalanan menuju Candi Cangkuang, melewati jalan dengan tawaran pemandangan sawah di bagian kanan dan kiri jalan. Tanpa menggunakan pendingin di dalam mobil, udara di luar terasa lebih sejuk.

Menuju Candi Cangkuang

Candi Cangkuang sendiri terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Untuk sampai di lokasi, saya pun harus memasuki pemukiman penduduk yang jalannya hanya cukup untuk dua mobil.

Dari pusat Kota Garut, jarak ke candi tersebut sekitar 18 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 40 menit. Nah, jika perjalanan dari arah Cileunyi, jaraknya sekitar 36 kilometer.

Begitu keluar pintu Tol Cileunyi, ambil arah menuju Nagrek, setelah itu pilih jalur menuju Garut. Waktu tempuh dari pintu Tol Cileunyi ke Candi Cangkuang sekitar kurang lebih satu hingga 1,5 jam.

Candi Cangkuang, peninggalan Hindu Abad ke-8, di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (13/1/2018).
Candi Cangkuang, peninggalan Hindu Abad ke-8, di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Sebelumnya para wisatawan pun harus membeli tiket masuk. Tarifnya untuk dewasa Rp 5.000 per orang, dan Rp 3.000 per orang untuk anak-anak.

Berbeda untuk wisatawan mancanegara, tarifnya Rp 12.000 per orang untuk dewasa, dan Rp 5.000 per orang untuk anak-anak.

Perlu dicatat, wisata ini buka setiap hari, mulai pukul 07.00 WIB hingga 17.00 WIB.

Tetapi untuk bisa sampai di Candi Cangkuang, harus menyeberangi danau menggunakan rakit. Menaiki rakit ini pun wisatawan harus membayar sebesar Rp 5.000 per orang.

Akan tetapi, jika datang bersama rombongan bisa menyewa satu rakit, maksimal kapasitasnya 20 orang dengan tarif sebesar Rp 100.000. Jika menyewa satu rakit, tak perlu khawatir, karena tidak ada batas waktu alias pengayuh rakit akan tetap menunggu Anda.

Menaiki rakit yang terbuat dari bambu,anda bisa duduk di kursi  yang telah disediakan. Rakit dikayuh oleh satu orang menggunakan bambu panjang. Kedalaman danau diperkirakan sekitar 1,5 meter.

Rakit yang digunakan menuju Candi Cangkuang, peninggalan Hindu Abad ke-8, di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (13/1/2018).
Rakit yang digunakan menuju Candi Cangkuang, peninggalan Hindu Abad ke-8, di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Tidak sampai 10 menit, rakit pun mulai bersandar di pulau sebrang atau biasa disebut masyarakat sekitar dengan pulau panjang, letak di mana Candi Cangkuang berada.

Turun dari rakit, anda bisa  terus berjalan mengikuti papan informasi. Sambil berjalan,anda akan menemukan toko-toko yang berjajar menawarkan suvenir yang bisa dijadikan oleh-oleh.

Sebelum memasuki area candi, anda juga akan melihat gerbang masuk Kampung Pulo. Di kampung tersebut pun hanya terdapat enam bangunan rumah panggung dan satu mushala.

Candi berada lebih tinggi dari pemukiman Kampung Pulo. anda pun harus melalui anak tangga yang sedikit menanjak, barulah sampai di Candi.

Di lokasi Candi Cangkuang, ternyata juga ada makam penyebar agama Islam, yakni makam Eyang Embah Dalem Arif Muhammad.

Kampung Pulo merupakan kampung adat di kompleks Candi Cangkuang, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (13/1/2018).
Kampung Pulo merupakan kampung adat di kompleks Candi Cangkuang, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Cerita di balik kompleks Candi Cangkuang

Disana anda akan melihat ada bangunan candi beserta makam tersebut. Untuk mengetahui asal-usul keduanya,  juru pelihara di sana bernama Umar.

Umar menjelaskan, di kompleks Candi Cangkuang terdapat dua peninggalan dari Hindu dan Islam. Diperkirakan Hindu di Desa Cangkuang ini sudah ada sejak abad 8, sementara Islam masuk pada abad 17.

“Candi Cangkuang sudah dipugar. Waktu ditemukan, batu candi hanya ada 40 persen. Beberapa batu juga sudah digunakan masyarakat untuk batu nisan, karena masyarakat nggak tau kalau ada candi,” kata Umar.

Dia lanjut menjelaskan, Candi Cangkuang hingga kini belum jelas, belum tuntas peninggalan raja mana. Akan tetapi, kata Umar, para ahli arkeolog memutuskan bahwa Candi Cangkuang merupakan peninggalan Hindu abad ke 8.

Candi yang terbuat dari batu tersebut, kala itu khusus untuk sembahyang dan peristirahatan.

“Dan ini dinamakan Cangkuang, kebetulan ditemukan di Desa Cangkuang dan nama Cangkuang itu diambil dari sejenis pohon, namana pohon Cangkuang,” kata dia.

Bangunan candi berukuran 4,5 x 4 meter persegi dengan tinggi 8,5 meter. Usai dipugar, kata Umar, patung Dewa Siwa yang sebelumnya ditemukan di luar candi, di masukan ke dalam candi.

Candi Cangkuang, peninggalan Hindu Abad ke-8, di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (13/1/2018).
Candi Cangkuang, peninggalan Hindu Abad ke-8, di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Patung tersebut juga digunakan untuk menutup lubang yang ada di tengah-tengah candi. Konon, di zaman Hindu, lubang tersebut digunakan sebagai tempat penyimpanan abu. Namun, sekarang tidak pernah digunakan lagi.

Sementara itu, di sebelah candi terdapat makam Eyang Embah Dalem Arif Muhammad.

“Beliau adalah seorang panglima perang kerjaan Mataram. Jadi waktu Raja Sultan Agung memberi instruksi menyerang tentara VOC ke Batavia, beliau gagal. Namun, kalau kembali takutnya ada sanksi, nah beliau sembunyi di Pulau Panjang (lokasi Candi Cangkuang) ini,” kata dia.

Bukti penyebaran Islam

Sebelum Eyang Embah Dalem Arif Muhammad datang ke Pulau Panjang, penduduk di sana menganut agama Hindu. Namun pada abad ke-17, lanjut Umar, beliau mengislamkan penduduk di sana secara bertahap.

“Walaupun mengislamkan, tetapi nuansa Hindu nggak dibuang. Seperti sesaji dan kemenyan masih dipakai,” ujar Umar.

Bukti penyebaran Islam di kompleks Candi Cangkuang, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (13/1/2018).
Bukti penyebaran Islam di kompleks Candi Cangkuang, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Beberapa bukti penyebaran agama Islam di pulau tersebut pun masih tersimpan rapi. Ada sebuah bangunan dekat dengan Candi Cangkuang, di dalamnya berisi bukti sejarah seperti  kitab kuno, Al-Quran, hingga naskah khotbah.

“Jadi sebuah bukti Eyang penyebar Islam di Cangkuang dan sekitarnya bisa liat ke dalam, ada kitab kuno, ada khotbah Idul Fitri, Idul Adha, Al-Quran, dan kitab-kitab lainnya,” jelas Umar.

“Kertasnya sendiri terbuat dari kulit kayu saeh, dan tintanya dari arang. Yang menulis Eyang sendiri saat menyebarkan agama Islam,” kata dia.

Kertasnya dari perisaeh, tintanya dari arang dan ketan. Yang menulis eyang sendiri waktu menyebarkan Islam.

Adapun kitab-kitab tersebut ditemukan di rumah adat Kampung Pulo. Kampung tersebut ditempati oleh keturunan Eyang Embah Dalem Arif Muhammad, diantaranya enam orang anak perempuan, dan satu anak laki-laki. Hingga saat ini, Kampung Pulo ditempati oleh keturunannya generasi kedelapan hingga kesepuluh.

Serunya Belajar Angklung Sambil Lihat Buaya

Angklung merupakan salah satu alat musik tradisional Indonesia yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh United Nations Education, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2010 lalu.

Alat musik itu berkembang dalam lingkungan Sunda di Jawa Barat. Terbuat dari potongan bambu, alat musik itu terdengar merdu saat digerakkan. Apalagi jika dimainkan secara bersamaan dan dibuat saling bersahutan.

Bagaimana jika anak-anak memainkan angklung di pinggir kolam buaya?

Predator Fun Park, sebuah lokasi wisata satwa yang ada di Kota Batu, Jawa Timur menyediakan tempat untuk belajar angklung. Tempat itu diberi nama Saung Angklung.

“Pengunjung bisa belajar angklung secara gratis,” kata Operasional Manager Predator Fun Park, Samuel Dwi Agus.

Saung Angklung itu terdiri dari beberapa bagian. Di bagian paling depan terdapat panggung utama tempat instruktur mengajarkan cara bermain angklung. Lalu di tengahnya terdapat dua kolam yang berisi dua buaya muara besar.

Kemudian terdapat tribun yang menjadi tempat pengunjung belajar angklung. Tribun itu memuat 120 pengunjung. Praktis, sambil belajar memainkan angklung, pengunjung juga diajak melihat buaya yang ada di bawahnya.

“Tribun nanti kita kembangkan. Minimal bisa memuat 200 orang,” jelasnya.

Ada empat instruktur yang siap mengajari pengunjung selama aktivitas wisata masih berlangsung. Selain itu, sebanyak 150 angklung disediakan untuk digunakan oleh pengunjung selama proses belajar.

Pengunjung diajari dengan cara berkelompok. Satu kelompok minimal 30 orang, dengan durasi belajarnya selama 30 menit. Setelah itu diganti oleh pengunjung yang lain.

“Setiap hari selalu ada yang bermain. Baik anak – anak maupun dewasa selalu ada. Kami beri edukasi bagaimana cara bermain angklung, cara memegangnya,” katanya.

Pihak pengelola memiliki alasan tersendiri menjadikan angklung sebagai alat pembelajaran bagi pengunjung. Sebab, angklung merupakan warisan budaya dunia yang dimiliki Indonesia.

“Karena angklung adalah salah satu alat musik khas Indonesia yang perlu dilestarikan,” katanya.