Mengintip Jejak Peninggalan Hindu dan Islam di Garut

Akhir pekan adalah waktu yang cocok untuk liburan singkat, tentu dengan pilihan destinasi yang tak terlalu jauh dari tempat tinggal. Sore itu saya menuju salah satu obyek wisata yang cukup tersohor di Garut, Jawa Barat, yakni Candi Cangkuang.

Perjalanan menuju Candi Cangkuang, melewati jalan dengan tawaran pemandangan sawah di bagian kanan dan kiri jalan. Tanpa menggunakan pendingin di dalam mobil, udara di luar terasa lebih sejuk.

Menuju Candi Cangkuang

Candi Cangkuang sendiri terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Untuk sampai di lokasi, saya pun harus memasuki pemukiman penduduk yang jalannya hanya cukup untuk dua mobil.

Dari pusat Kota Garut, jarak ke candi tersebut sekitar 18 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 40 menit. Nah, jika perjalanan dari arah Cileunyi, jaraknya sekitar 36 kilometer.

Begitu keluar pintu Tol Cileunyi, ambil arah menuju Nagrek, setelah itu pilih jalur menuju Garut. Waktu tempuh dari pintu Tol Cileunyi ke Candi Cangkuang sekitar kurang lebih satu hingga 1,5 jam.

Candi Cangkuang, peninggalan Hindu Abad ke-8, di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (13/1/2018).
Candi Cangkuang, peninggalan Hindu Abad ke-8, di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Sebelumnya para wisatawan pun harus membeli tiket masuk. Tarifnya untuk dewasa Rp 5.000 per orang, dan Rp 3.000 per orang untuk anak-anak.

Berbeda untuk wisatawan mancanegara, tarifnya Rp 12.000 per orang untuk dewasa, dan Rp 5.000 per orang untuk anak-anak.

Perlu dicatat, wisata ini buka setiap hari, mulai pukul 07.00 WIB hingga 17.00 WIB.

Tetapi untuk bisa sampai di Candi Cangkuang, harus menyeberangi danau menggunakan rakit. Menaiki rakit ini pun wisatawan harus membayar sebesar Rp 5.000 per orang.

Akan tetapi, jika datang bersama rombongan bisa menyewa satu rakit, maksimal kapasitasnya 20 orang dengan tarif sebesar Rp 100.000. Jika menyewa satu rakit, tak perlu khawatir, karena tidak ada batas waktu alias pengayuh rakit akan tetap menunggu Anda.

Menaiki rakit yang terbuat dari bambu,anda bisa duduk di kursi  yang telah disediakan. Rakit dikayuh oleh satu orang menggunakan bambu panjang. Kedalaman danau diperkirakan sekitar 1,5 meter.

Rakit yang digunakan menuju Candi Cangkuang, peninggalan Hindu Abad ke-8, di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (13/1/2018).
Rakit yang digunakan menuju Candi Cangkuang, peninggalan Hindu Abad ke-8, di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Tidak sampai 10 menit, rakit pun mulai bersandar di pulau sebrang atau biasa disebut masyarakat sekitar dengan pulau panjang, letak di mana Candi Cangkuang berada.

Turun dari rakit, anda bisa  terus berjalan mengikuti papan informasi. Sambil berjalan,anda akan menemukan toko-toko yang berjajar menawarkan suvenir yang bisa dijadikan oleh-oleh.

Sebelum memasuki area candi, anda juga akan melihat gerbang masuk Kampung Pulo. Di kampung tersebut pun hanya terdapat enam bangunan rumah panggung dan satu mushala.

Candi berada lebih tinggi dari pemukiman Kampung Pulo. anda pun harus melalui anak tangga yang sedikit menanjak, barulah sampai di Candi.

Di lokasi Candi Cangkuang, ternyata juga ada makam penyebar agama Islam, yakni makam Eyang Embah Dalem Arif Muhammad.

Kampung Pulo merupakan kampung adat di kompleks Candi Cangkuang, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (13/1/2018).
Kampung Pulo merupakan kampung adat di kompleks Candi Cangkuang, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Cerita di balik kompleks Candi Cangkuang

Disana anda akan melihat ada bangunan candi beserta makam tersebut. Untuk mengetahui asal-usul keduanya,  juru pelihara di sana bernama Umar.

Umar menjelaskan, di kompleks Candi Cangkuang terdapat dua peninggalan dari Hindu dan Islam. Diperkirakan Hindu di Desa Cangkuang ini sudah ada sejak abad 8, sementara Islam masuk pada abad 17.

“Candi Cangkuang sudah dipugar. Waktu ditemukan, batu candi hanya ada 40 persen. Beberapa batu juga sudah digunakan masyarakat untuk batu nisan, karena masyarakat nggak tau kalau ada candi,” kata Umar.

Dia lanjut menjelaskan, Candi Cangkuang hingga kini belum jelas, belum tuntas peninggalan raja mana. Akan tetapi, kata Umar, para ahli arkeolog memutuskan bahwa Candi Cangkuang merupakan peninggalan Hindu abad ke 8.

Candi yang terbuat dari batu tersebut, kala itu khusus untuk sembahyang dan peristirahatan.

“Dan ini dinamakan Cangkuang, kebetulan ditemukan di Desa Cangkuang dan nama Cangkuang itu diambil dari sejenis pohon, namana pohon Cangkuang,” kata dia.

Bangunan candi berukuran 4,5 x 4 meter persegi dengan tinggi 8,5 meter. Usai dipugar, kata Umar, patung Dewa Siwa yang sebelumnya ditemukan di luar candi, di masukan ke dalam candi.

Candi Cangkuang, peninggalan Hindu Abad ke-8, di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (13/1/2018).
Candi Cangkuang, peninggalan Hindu Abad ke-8, di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Patung tersebut juga digunakan untuk menutup lubang yang ada di tengah-tengah candi. Konon, di zaman Hindu, lubang tersebut digunakan sebagai tempat penyimpanan abu. Namun, sekarang tidak pernah digunakan lagi.

Sementara itu, di sebelah candi terdapat makam Eyang Embah Dalem Arif Muhammad.

“Beliau adalah seorang panglima perang kerjaan Mataram. Jadi waktu Raja Sultan Agung memberi instruksi menyerang tentara VOC ke Batavia, beliau gagal. Namun, kalau kembali takutnya ada sanksi, nah beliau sembunyi di Pulau Panjang (lokasi Candi Cangkuang) ini,” kata dia.

Bukti penyebaran Islam

Sebelum Eyang Embah Dalem Arif Muhammad datang ke Pulau Panjang, penduduk di sana menganut agama Hindu. Namun pada abad ke-17, lanjut Umar, beliau mengislamkan penduduk di sana secara bertahap.

“Walaupun mengislamkan, tetapi nuansa Hindu nggak dibuang. Seperti sesaji dan kemenyan masih dipakai,” ujar Umar.

Bukti penyebaran Islam di kompleks Candi Cangkuang, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (13/1/2018).
Bukti penyebaran Islam di kompleks Candi Cangkuang, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Beberapa bukti penyebaran agama Islam di pulau tersebut pun masih tersimpan rapi. Ada sebuah bangunan dekat dengan Candi Cangkuang, di dalamnya berisi bukti sejarah seperti  kitab kuno, Al-Quran, hingga naskah khotbah.

“Jadi sebuah bukti Eyang penyebar Islam di Cangkuang dan sekitarnya bisa liat ke dalam, ada kitab kuno, ada khotbah Idul Fitri, Idul Adha, Al-Quran, dan kitab-kitab lainnya,” jelas Umar.

“Kertasnya sendiri terbuat dari kulit kayu saeh, dan tintanya dari arang. Yang menulis Eyang sendiri saat menyebarkan agama Islam,” kata dia.

Kertasnya dari perisaeh, tintanya dari arang dan ketan. Yang menulis eyang sendiri waktu menyebarkan Islam.

Adapun kitab-kitab tersebut ditemukan di rumah adat Kampung Pulo. Kampung tersebut ditempati oleh keturunan Eyang Embah Dalem Arif Muhammad, diantaranya enam orang anak perempuan, dan satu anak laki-laki. Hingga saat ini, Kampung Pulo ditempati oleh keturunannya generasi kedelapan hingga kesepuluh.

Rumah Subsidi di Aceh Lebih Diminati

Perlambatan ekonomi tak membuat para pengusaha perumahan (developer) di Provinsi Aceh, berhenti berproduksi. Sebaliknya, mereka justru melakukan terobosan. Di antaranya dengan mengubah pasar incaran.

PT Gigeh Mandiri Sejahtera, contohnya. Mereka menyasar kelas masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang hanya mampu mengakses rumah bersubsidi.

Menurut Direktur Utama sekaligus pemilik PT Gigeh Mandiri Sejahtera, Firdaus Musa, pasar rumah subsidi di Aceh cukup besar.

“Lumayan, Tahap I perumahan yang kami pasarkan laris terjual,” kata Firdaus.

Dalam catatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang dikutip Bank Indonesia melalui Survei Harga Properti Residensial, realisasi pembangunan rumah subsidi atau dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan ( FLPP) di Aceh masih sangat minim.

Pada kuartal I-2017, realisasi rumah FLPP 9 unit dengan nilai Rp 856,8 juta. Kemudian kuartal II, turun menjadi 4 unit dengan nilai Rp 402,3 juta. Angka ini tumbuh kembali pada kuartal III dengan pencapaian 17 unit dengan nilai Rp 1,657 miliar.

Karena masih minim inilah PT Gigeh Mandiri Sejahtera konsentrasi pada perumahan subsidi. Pasalnya, permintaan cukup banyak, sementara pasokan terbatas.

Melalui Griya Anugerah Blangkrueng, mereka memasarkan 10 unit rumah subsidi tipe 36 dengan harga mulai dari Rp 180 juta.

Seluruh dari 10 unit yang masuk dalam pengembangan Tahap I ini sudah terjual habis. Demikian halnya dengan rumah non subsidi tipe 50 seharga Rp 275 juta.

“Kami hanya tawarkan 2 unit untuk tipe 50. Itu habis juga,” kata Firdaus.

Saat ini, PT Gigeh Mandiri Sejahtera tengah memasarkan Griya Anugerah Blangkrueng Tahap II. Perumahan yang berlokasi di Blangkrueng Aceh Besar atau dekat Kampus Universitas Syahkuala ini dirancang dalam dua pilihan yakni tipe 45 dan dan tipe 50.

Tipe 45 dibanderol dengan harga 275 juta dengan jumlah rumah 4 unit, dan tipe 50 dipatok seharga Rp 320 juta dengan jumlah juga 4 unit.

Tampil Santai dan Casual dengan Perpaduan Hijab dengan Celana Jeans

Style hijab dengan celana jeans belakangan sangat digemari dan marak di kalangan muslimah Indonesia, terutama muslimah muda. Pasalnya, style hijab dengan padupadan celana jeans ini sangat nyaman dipakai untuk berbagai kegiatan. Selain itu, padupadan jeans dengan busana lain, selalu terlihat modis.

Style hijab dengan celana jeans, banyak dipadukan dengan busana-busana seperti tunik dan yang lainnya. Padupadan celana jeans dengan busana lain, selalu berhasil membuat penampilan menjadi lebih berbeda, terutama lebih santai dan casual. Pada artikel ini, kami akan memilihkan beberapa padupadan busana muslim untuk Anda yang merupakan paduan dari celana jeans dan baju atasan yang cantik serta modis.

Style Hijab dengan Celana Jeans untuk Tampil Casual Modis

Hijab Style dengan Jeans

Hijab Style dengan Jeans

Menggunakan jeans untuk berbagai kegiatan, bukan tanpa alasan. Jeans, banyak diakui sebagai salah satu busana yang nyaman dipakai. Maka dari itu, tidak heran jika jeans banyak dipilih, termasuk oleh para muslimah. Dengan padupadan yang pas dan sopan, jeans bisa menjelma jadi satu pilihan berbusana yang baik dan menyenangkan. Simak ulasan kami berikut ini!

Jeans dan Sweater yang Hangat dan Manis

Jeans dan Sweater yang Hangat dan Manis

Padupadan Jeans dan Sweater Lucu

Style hijab dengan celana jeans yang dipadankan dengan sweater lucu, membuat penampilan Anda akan semakin lucu. Selain hangat, padupadan antara jeans dan sweater juga tampak modis. Padupadan ini bisa dipakai saat udara atau cuaca sedang dingin. Sweater yang bisa dipilih antara lain sweater jenis rajutan atau sweater kaos yang casual.

Jeans dan Sweater yang Hangat dan Manis

Jeans dan Sweater yang Hangat dan Manis

Jeans dan Sweater yang Lucu

Jeans dan Sweater yang Lucu

Jeans dan Kemeja Flannel untuk Tampil Muda

Padupadan jeans dan kemeja, adalah salah satu ide memadupadankan celana jeans dengan baju atasan. Keduanya, memberikan kesan maskulin namun tetap modis. Menggunakan celana jeans dan baju kemeja flannel juga akan membuat Anda tampil muda. Padupadan ini, cocok untuk busana kuliah.

Paduan Casual Jeans dan Kemeja Flannel

Paduan Casual Jeans dan Kemeja Flannel

Padupadan Jeans dan Kemeja Flannel

Padupadan Jeans dan Kemeja Flannel

Jeans dan Tunic Trendy

Celana jeans sebenarnya bukan pemain baru di dalam dunia fashion pada umumnya. Gaya busana menggunakan jeans sudah ada sejak zaman dahulu kala. Namun, boleh lah rasanya jika jeans tetap dimasukkan dalam kategori model celana panjang wanita 2016 mengingat banyaknya para wanita muslim yang memakainya tahun ini. Paduannya dngan tunik yang trendy, membuat penampilan Anda juga semakin trendy.

Paduan Cantik Jeans dan Tunik Trendy

Paduan Cantik Jeans dan Tunik Trendy

Paduan Tunik dan Jeans Cantik

Paduan Tunik dan Jeans Cantik

Jeans dan Blouse

Style hijab dengan celana jeans yang memadukan jeans dan blouse juga tidak kalah cantik, casual dan modis. Blouse yang kami pilihkan kali ini, khusus merupakan blouse warna putih yang klasik. Padupadan keduanya bisa dipakai untuk acara-acara yang semi formal.

Jeans and Blouse Hijab Style

Jeans and Blouse Hijab Style

Jeans dan Blouse Casual

Jeans dan Blouse Casual

Jeans and Simple Coat

Terakhir, style hijab dengan celana jeans yang dapat menambah referensi Anda dalam bergaya adalah paduan antara jeans dan simple coat. Jeans dan simple coat adalah padanan yang pas untuk tampil modis dan casual. Sangat menarik untuk cuaca yang sedang dingin dan tidak baik.

Jeans and Simple Coat

Jeans and Simple Coat

Paduan Celana Jeans dan Coat Simple

Paduan Celana Jeans dan Coat Simple

Beberapa inspirasi style hijab dengan celana jeans yang sudah kami pilihkan di atas, semoga saja dapat menambah referensi Anda dalam hal gaya berbusana. Menggunakan hijab, menutup aurat, bukan alasan untuk tidak tampil modis, bukan? Maka, Anda bisa tampil modis dengan padupadan celana jeans dan baju atasan yang kami pilihkan.

Susu Bubuk Untuk Perawatan Kecantikan

Susu bubuk merupakan salah satu jenis produk olahan susu yang umum dikonsumsi balita dan anak-anak. Namun susu bubuk pun punya manfaat tersendiri bagi orang dewasa, terutama dalam urusan perawatan kecantikan.

Susu bubuk kaya akan protein yang diperlukan kulit agar senantiasa muda dan cerah. Selain itu, kandungan kasein di dalamnya bisa membantu kulit menyerap dan mempertahankan kelembapan lebih baik.

Sementara itu, butiran susu bubuk juga efektif untuk mengelupas kulit mati. Jadi, dairy product yang satu ini sangat cocok diolah menjadi scrub wajah.

Bahan:

  • 1 sendok makan susu bubuk full cream
  • 1 sendok makan oatmeal
  • 1 sendok makan madu

Cara membuat:

  • Campurkan semua bahan hingga menjadi pasta kental, kemudian gunakan untuk scrub wajah. Gosok perlahan dengan gerakan melingkar agar kulit mati terangkat sempurna.
  • Diamkan campuran susu bubuk selama 15-30 menit, kemudian bilas wajah dengan air dingin. Keringkan wajah dengan ditepuk-tepuk handuk.

Sony akan menghadirkan smartphone murah berkualitas di 2018

Sony nampaknya akan memberi angin segar pada lini smartphone murah serta papan tengahnya, yakni Xperia XA, XA Ultra, serta L1. Tak cuma memberi pembaruan mengikuti perkembangan zaman, smartphone ini akan lebih berkualitas karena akan punya ‘otak’ baru.

Melansir Venture Beat dan The Verge, perubahan terbesar terutama di Xperia XA dan XA Ultra, adalah bergantinya prosesor yang diusung jadi Qualcomm Snapdragon 630. Sebelumnya, kedua lini ini mengusung prosesor MediaTek.

Venture Beat sendiri juga mendapat bocoran gambar dari keduanya, yang akan diberi nama Xperia XA2, XA2 Ultra, dan L2. Dari gambar tersebut terlihat bahwa XA2 akan mengusung desain yang agak sedikit lebih besar dari sebelumnya.

Dari segi spesifikasi, XA2 akan mengusung layar Full HD 1920×1080, RAM 3GB, storage 32GB, serta Android Oreo. Selain itu kamera akan membawa resolusi 21 MP dengan kemampuan merekam video 4K. Untuk varian Ultra, bedanya hanya di ukurannya yang 6 inci, serta RAM 4GB.

Kemungkinan smartphone-smartphone Sony ini akan dipamerkan di CES 2018.

Kelapa Bakar Bu Warsito dari Semarang, Kuliner yang cukup unik

Buah kelapa muda biasanya dinikmati tanpa campuran es, ataupun gula. Namun pernahkah Anda cicipi kelapa bakar?

Kalau belum coba singgah di Kota Semarang, Jawa Tengah. Sebuah kedai sederhana di Kelurahan Manyaran, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang menyajikan minuman kelapa bakar. Kedai sederhana itu milik Bu Warsito.

Dalam penyajiannya, kelapa bakar bu Warsito ditambahi bumbu rempah-rempah dan plus telur bebek.

Bau amis masih terasa saat hendak meminum kelapa bakar itu. Namun itu tak menjadi halangan ketika diminum. Air kelapa yang masih hangat bercampur rempah sangat terasa jika dibanding air kelapa muda biasanya.

Kelapa bakar bu Warsito ditambahi bumbu rempah mulai dari akar alang-alang, jahe, kencur, empu kunir, adas kulo waras (ramuan jamu Jawa), telur bebek, madu, susu dan jeruk nipis.

Menurut bu Warsito, ada khasiat tersendiri meminum kelapa bakar. Selain diyakini menyembuhkan asam urat, kolesterol, batu ginjal, liver, manfaat kelapa bakar juga diyakini menyembuhkan penyakit gula.

Kelapa bakar bu Warsito di Semarang, Jawa Tengah.
Kelapa bakar bu Warsito di Semarang, Jawa Tengah.

Kedai Bu Warsito ini unik karena hanya satu-satunya di Kota Semarang. Setiap hari, kedai miliknya tak kurang dikunjungi 100 orang untuk merasakan legitnya air kelapa bakar itu.

Bahkan para pengunjung dari luar kota nekat datang seperti Kudus, Magelang, Jakarta dan kota-kota lain. Bu Warsito mengatakan, usaha kelapa bakar ini bermula atas saran orang Jepang yang berkunjung ke kedainya.

Pada 2007, orang Jepang minta kelapa muda dibakar. Warsito kala itu sebagai pedagang kelapa muda tak habis pikir, namun ia mencoba melayani warga Jepang itu dengan membakar beberapa kelapa, kemudian disajikan dengan permintaan campuran rempah-rempah di atas air kelapa yang masih hangat.

“Orang Jepang itu sehabis golf biasanya mampir sini, kedai saya jadi langganan. Mereka bilang, khasiat kelapa bakar dan rempah bisa nyembuhin berbagai penyakit,” katanya.

Sejak saat itu, bu Warsito mulai membakar kelapa lebih banyak. Di luar dugaan, peminat kelapa bakar ternyata tinggi. Para pengunjung, sambung dia, percaya jika minum kelapa bakar plus ramuan rempah sangat berkhasiat untuk tubuh.

Nenek 50 tahun itu akhirnya beralih menjual kelapa bakar. Setiap hari, kelapa dibakar pada 04.00 WIB. Pembakaran kelapa membutuhkan waktu selama tiga jam dengan kayu bakar.

Kelapa bakar bu Warsito di Semarang, Jawa Tengah.
Kelapa bakar bu Warsito di Semarang, Jawa Tengah.

Kelapa bakar sendiri harus dihidangkan kala masih hangat. Hal itu, kata dia, lebih berkhasiat untuk tubuh.

“Kalau minum kelapa bakar tidak boleh dimakan daging kelapanya, karena sudah ada minyak. Tidak boleh juga pakai es,” tambahnya.

Untuk satu buah kelapa bakar hasil racikannya dihargai Rp 25.000. Pengunjung pun dapat memilih ramuan rempah sesuai dengan keinginan.